Workshop Perencanaan Strategis Advokasi Hak Buruh Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia

0
586

Workshop Perencanan Strategis “Advokasi Hak Buruh Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia” dilakukan di Medan pada tanggal 10-11 Mei di Hotel Karibia Medan. Workshop Perencanaan Strategis  di ikuti  oleh  Amalia Falah Alam, Fina,  Imam A. El Marzuq (RSPO), T.King Oey, Tia Mobeik (FNV Mondiaal), Madeleine Braser (Oxfam Novib Belanda),  Taufiq Mujib, Chris Wangkay (Oxfam di Indonesia), Fitri Arianti (RAN), Ismail Hasan Koto (LBH Medan), Odi Shalahudin (Samin Jogja), Musri Nauli (Walhi Jambi), Habibi Inseun (TUCC), Carlo, Jefri Gideon Saragih, Hadi Saputra (Sawit Watch), Natal Sidabutar (SERBUNDO), Herwin Nasution, SH, Suhib Nuridho, Trinastiti, Lambok Simbolon (OPPUK) dengan jumlah peserta sebanyak 21 orang terdiri dari 6 orang perempuan dan 15 laki-laki. Tujuan kegiatan ini adalah untuk merumuskan  implementasi dari dokumen Prinsip dan Panduan Kerja Bebas dan Adil bagi Buruh di Perkebunan Kelapa Sawit yang diadopsi oleh RSPO dan dapat dioperasionalkan ditingkat basis maupun perusahaan.  Serta perumusan strategi bersama dan pembagian peran tentang advokasi dan kampanye persoalan buruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Kegiatan workshop diawali dengan pembukaan oleh panitia yang dilanjutkan dengan sambutan dari Herwin Nasution, SH  Direktur OPPUK. Dalam sambutannya Herwin Nasution, SH  menyampaikan tentang latar belakang workshop ini  dimulai dari berbagai rangkaian kegiatan, advokasi perbaikan kondisi kehidupan dan kerja buruh perkebunan kelapa sawit telah melibatkan banyak NGO local dan internasional. Dimulai dengan Workshop Multistakeholder di Hotel Tiara, Pembuatan Dokumen Prinsip dan Panduan Pelaksanaan Buruh yang Bebas dan Adil dalam Produksi Minyak Kelapa Sawit, Pelatihan Prinsip dan Kriteria RSPO dengan Oxfam dan TURC, Pelatihan ToT tentang Prinsip dan Kriteria RSPO  dengan FNV Mondiaal serta side event yang dilaksanakan oleh RAN dan OPPUK di Kuala Lumpur Malaysia sekaligus OPPUK mempresentasikan kondisi buruh perkebunan kelapa sawit dalam side event dan pertemuan tahunan ke-13 RSPO di Kuala Lumpur, Malaysia. Rangkaian kegiatan ini menuju Perencanaan Strategis Advokasi Buruh Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia.

workshop-2Peserta dari masing-masing  NGO melakukan sharing program yang sudah dilakukan selama satu tahun terakhir, peserta kemudian di bagi menjadi dua kelompok untuk membahas Dokumen Prinsip dan Panduan Pelaksanaan Buruh yang Bebas dan Adil dalam Produksi Minyak Kelapa Sawit menjadi Strategy Framework kedepan. Workshop juga membahas rencana kegiatan ToT yang akan dilaksanakan di Jambi dan akan di fasilitasi oleh FNV Mondiaal serta pencetakan modul PnC RSPO.

Fasilitator DR. Henri Sitorus, S.Sos, M.Sc yang hadir di hari kedua  menyampaikan bahwa selama ini negara terjebak pada orientasi buruh perkebunan di industri  (industrial base) sehingga aspek buruh perkebunan kelapa sawit kurang di perhatikan oleh negara, lembaga internasional maupun NGO Internasional. Dalam kajian power analisis ada unsur power distance,  seberapa jauh ketakutan orang terhadap orang yang berkuasa. Dengan analisa power analisis fasilitator mencoba merumuskan objektive kedepan yaitu Praktek dan Kebijakan perburuhan yang Adil di Sektor Perkebunan Kelapa Sawit.

Workshop Perencanan Strategis “Advokasi Hak Buruh Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia” yang diikuti NGO yang konsern terhadap isu buruh perkebunan kelapa sawit sangat penting untuk menentukan arah advokasi dan kampanye bersama. Perumusan implementasi dari dokumen Prinsip dan Panduan: Kerja Bebas dan Adil bagi Buruh di Perkebunan Kelapa Sawit akan menjadi rujukan strategi untuk menyelesaikan persoalan buruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Adapun beberapa poin kesimpulan dari workshop ini  adalah:

  1. Isu perkebunan sawit menjadi isu kompleks menyangkut tentang ekonomi, lingkungan, politik, sosial, hukum dan budaya.
  2. Permasalahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia menjadi perhatian internasional, nasional dan local seperti RSPO, pemerintah, NGO internasional dan nasional, serikat buruh dan Global Compact.
  3. Bagaimana sinergi antar-organisasi pembela buruh perkebunan kelapa sawit antara buruh, serikat buruh, NGO (nasional dan internasional) dalam merumuskan strategi advokasi dan kampanye bersama.

Dari workshop Perencanan Strategis “Advokasi Hak Buruh Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia”, ada beberapa perkembangan sebagai tindak lanjut yang dapat ditindaklanjuti oleh para pihak yaitu:

  1. Membuat rencana bersama sepanjang satu kalender kerja.
  2. Membuat pertemuan sebelum ToT di Jambi.
  3. Membuat seminar tahunan satu hari di Jakarta pada Minggu kedua bulan Juni, bertindak selaku tuan rumah RSPO, akan dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2016 jam 13.00 WIB.                                                     

Minimnya advokasi dan kampanye serta perbaikan kondisi buruh perkebunan kelapa sawit merupakan ancaman bagi kehidupan buruh. Kondisi ini dijadikan peluang pengusaha, perbankan maupun Negara untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar sehingga menambah laju ekspansi perkebunan kelapa sawit. Agenda dan kerja sama yang telah dilakukan bersama dengan Aliansi NGO  belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perbaikan kondisi buruh perkebunan kelapa sawit. Karenanya workshop Perencanan Strategis “Advokasi Hak Buruh Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia”, menjadi momentum untuk menyusun dan merumuskan agenda kerja bersama.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY